Manajemen Neraca Masa

October 30th, 2005 by Hadi

Sebelum puasa, saya berkunjung ke salah seorang teman (initialnya: MSA) yang menjadi Kepala Pabrik. Kami berbincang banyak mengenai manajemen. OK… sebenarnya dialah yang ngobrol banyak tentang manajemen. Karena saya juga kurang tahu banyak teori manajemen.

Ada yang menarik dalam perbincangan ini. Dia berfikiran sederhana dalam manajemen, tapi sukses diterapkan. Karena seorang lulusan Teknik Kimia, dia mengambil prinsip rumus Neraca Masa (kira-kira: sisa = jumlah yang masuk - jumlah yang keluar) dalam semua hal. Pabriknya tidak dalam kategori besar (menurut dia). Jumlah karyawan hanya 200-an orang. Lupakan SWOT, Six Sigma dan lain-lain. Dengan prinsip di atas, dia memilah masalah dan membenahi bagian demi bagian, dan mencoba mangaplikasikan teori “Neraca Masa”-nya. Dia bahkan memberikan beberapa contoh simple dalam menganalisa masalah dan menyelesaikannya. Hasilnya memang bisa dikatakan sangat berhasil. Sisa (atau profit menurut kita) meningkat signifikan.

Dalam waktu yang singkat itu, ada hal yang saya pelajari, dia telah memulai langkah dengan sangat baik. Dia telah menanamkan 3 point penting:

  • Ownership (kepemilikan). Setiap karyawan ditanamkan rasa memiliki perusahaan.
  • Milestones (pencapaian). Selalu memiliki target dari waktu ke waktu. Bahkan untuk 5 tahun ke depan.
  • Measurement (alat Ukur). Mengolah data untuk mengetahui efisiensi, dengan sangat sederhana, hanya dengan worksheet, bukan aplikasi yang canggih.

Sebelum berpisah, dia mengemukakan keinginannya, agar anaknya kelak kuliah di Ekonomi atau Manajemen saja. Enggak usah jadi “Tukang Insinyur” seperti bapaknya. Lho?! Terus yang ngajarin Manajemen ala “Neraca Massa” nanti siapa? Kan enggak ada di kurikulum jurusan ekonomi atau manajemen.

Programmer … oh Programmer

October 29th, 2005 by Hadi

Ada hal klasik pada saat karier seseorang dimulai.
1. Seseorang tidak akan mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki pengalaman
2. Seseorang juga tidak akan mendapatkan pengalaman tanpa pekerjaan.
Fakta: tidak ada sekolah yang bisa menyediakan tenaga yang benar-benar siap pakai. Hal ini, pasti terjadi pada seorang programmer pertama kali.

Seorang programmer, pada awalnya pasti membayangkan bahwa pekerjaan sehari-harinya adalah 75% coding. Kenyataannya, justru kebanyakan waktunya dihabiskan untuk meeting dengan bagian lain. Dunia perusahaan selalu berhubungan erat dengan: birokrasi, politik, marketing, manajemen yang “clueless”, dan semua hal yang tidak berhubungan dengan keahlian membuat kode pemrograman.

Programmer selalu beranggapan bahwa “kesempurnaan teknis” adalah satu-satunya yang bernilai dan diperhitungkan. Walaupun mereka dibayar dengan cukup baik oleh perusahaan, tetapi — tolong diperhatikan — perusahaan tidak pernah melihat bagaimana hebatnya “kesempurnaan teknis” programmer tersebut.

Prinsip dalam dunia bisnis: It’s all about the money. Software hanyalah sebuah produk, tidak lebih. Bukan sesuatu yang berseni tinggi. Bukan sesuatu yang hebat. Hanya sesuatu yang akan diberikan pada customer dan akan menjadi bagian dari mencari keuntungan. Ini yang membuat programmer merasa terjun ke dunia terasing atau ke dalam air keruh.

Jadi mulai saat ini, programmer harus berpikiran sama dengan para bisnisman: It’s all about the money. Pasti pandangan terhadap karier anda akan berubah. Kapitalis? Apa lagi?

Catatan harian Priyadi dengan judul “Curhat Seorang Korban Money Game” dapat komentar lebih dari 100. Lho… kenapa kok ribut? Lalu apa sebenarnya Money Game, MLM, Elite Marketingnya Anne Ahira, dan sejenisnya. Semua jenis bisnis ini dinamakan bisnis piramida atau “schema Ponzi”. Sekarang siapa lagi Ponzi?

Read the rest of this entry »

Merdeka ….!

August 17th, 2005 by Hadi

Hari ini 60 tahun Indonesia Merdeka. Tapi karena enggak jalan-jalan keluar, saya tidak bisa menikmati meriahnya HUT RI kali ini. Sebelumnya, waktu tinggal di Cimanggis, pasti selalu tercantum dalam daftar panitia tingkat RW, gak pake konfirmasi dulu. Tahu-tahu udah jadi seksi apa gitu.

Tetangga saya kemarin sore udah sibuk banget mau jalan-jalan ke Monas. Mau nonton “dangdutan” katanya. Sekitar jam 11 malam pulang, mukanya lemes. Gak ada apa-apa di Monas …. Haaaaaaaaaaa.

Saya sendiri nonton TV, dan bolak-balik mindahin channel TV. Semua normal … sinetron dan lain-lain aja … kayak enggak lagi malem Agustusan. Tidak ada lagi slogan heboh yang membangunkan rasa kebangsaan, walaupun beberapa iklan konsisten dengan iklan versi HUT-RI-nya yang wah. Kocaknya lagi ada iklan acara rutin siang hari dari sebuah TV mau siaran langsung di Istana Negara. Kesan ’sakral’ semangat kemerdekaan langsung ilang deh ngelihat iklan itu.

Kompas 16 Agustus 2005, membahas tingkat kebanggaan menjadi WNI dari sisi usia. Semakin muda orang Indonesia, semakin kecil rasa kebanggaannya menjadi WNI. Apa yang salah?
Di lembar lain dibahas juga perkembangan dan sistem pendidikan Indonesia. Nyambung banget. Kurikulum ‘civics’ (pendidikan kewarga-negaraan), dicampur-campur dengan kepentingan politik. Anak SD malah disuruh menghapal nama menteri. Apa gunanya?
Inilah hasilnya dan kita enggak bisa tutup mata lagi.

Bersepeda telanjang bersamaHari Sabtu, 11 Juni 2005 kemarin sekitar 100 orang berkeliling kota bersepeda telanjang di London. Aksi serupa dilakukan bersamaan di Madrid, Spanyol

Tapi yang jelas acara ini merupakan bagian dari World Naked Bike Ride, yang bertujuan untuk memprotes polusi yang dikeluarkan dari kendaraan berbahan bakar minyak.

Photo-photo lainnya anda bisa dapatkan di Getty Images

Mau ikutan? Di Indonesia pasti gak bisa. Mungkin anda harus nyebrang ke tetangga Australia atau New Zealand untuk ikut berpartisipasi. Sorry … bukan promo nih.

Hari ini satu komputer di kantor gak mau nyala setelah ada ‘flicker’ (ngedip begitu deh) aliran listrik. Kemudian saya merenung, berapa (dalam mata uang) kerugian konsumen yang diakibatkan oleh kedipan si Listrik ini. Soalnya gak cuma komputer, yang hampir sering terjadi adalah lampu yang putus (lampu pijar). Entah alat-alat lainnya.

Sudah saatnya lembaga konsumen kembali memperjuangkan supaya PLN memperbaiki kualitas service mereka. Gak cuma gembar-gembor suruh hemat energi.

FYI, operator di bagian pengendalian (sorry, enggak tahu apa namanya), dapat dikenakan sangsi maksimal perbuatan ‘makar’. Serem kan? Tapi kok masih sering mati nih? Kurang berat sangsinya?

Iseng search berita paling akhir tentang Indonesia hari ini, dan di rangkum:

  • Phillip Morris mengakusisi saham perusahaan kretek ke dua terbesar di Indonesia, Sampoerna dan menyatakan tetap berstatus “Go Public”.
  • OPEC menaikkan quota 500,000 barrel per hari, tapi Iran, Venezuela dan Indonesia akan di turunkan quotanya dibanding bulan Februari lalu.
  • Pemerintah Indonesia berhasil menyelesaikan blue-print untuk menanggulangi masalah Aceh, dengan alokasi dana Rp. 45 Triliun.
  • Pemerintah secara resmi menyatakan ada wabah flu burung di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
  • Gempa kembali mengguncang sebagian Aceh pada 17:44 WIB. Epicentrum diperkirakan berada di kedalaman 30 km dari permukaan bumi.

Admire or Adore a Woman?

March 2nd, 2005 by Hadi

Baca Rückblick-nya Irene, tergelitik juga saya pengen nulis blog. It’s about man admire (or adore?) a woman.Saya mempunyai list cukup banyak untuk wanita yang masuk kategori dikagumi saya. In fact, Irene ini adalah salah satunya. Tentu saja wanita yang paling pertama dikagumi adalah Ibu, … pasti. Cuma rasanya kalau seorang wanita tiba-tiba merasa seperti yang dibilang Irene, gimana ya?! (Oh ya, dicatat dulu, subyek yang di catatan Irene bukan aku lho…, beda jaman ‘bo!). Tapi enggak aneh rasanya kalau admire berubah menjadi adore kan?

Sudut pandang pria memang agak ajaib. Pertama, biasanya memang nafsu (karena cantik), tapi berikutnya akan lebih wise. Pada tahap berikutnya, pria akan menilai hal lain. Dia akan menilai sisi yang lebih hebat dari seorang wanita.

Tetapi, mengagumi bukan berarti selalu ingin memiliki. Saya akan selalu merasa senang sekali apabila berada di dekat dengan wanita yang saya kagumi ini. Obrolan ringan saja akan terasa sangat menyenangkan. It’s a great time!

Tetapi selain itu, seperti kata dans, lebih jauh lagi pria akan menilai dulu ke-cocok-an untuk dijadikan pasangan hidup. Rasanya kalau enggak cocok, ceritanya juga bakalan lain kok.

Balik lagi ke tulisan Irene, memang nasib tragis yang dialami sama seorang ‘adorer‘ itu. Saya yakin dia akan tetap menjadi ‘admirer‘ Irene sampai saat ini. Sebatas mengagumi tentunya. Seperti saya.

Tidak sengaja menemukan link ini “TIDUR Siang Itu Bikin Karyawan Produktif!“. Agak sedikit basi, karena ini artikel kompas bulan november 2003. Intinya tidur siang ternyata bermanfaat sekali.

Silahkan tidur siang, dan minta kantor untuk menyediakan kamar.

Sometimes my music mood change

February 24th, 2005 by Hadi

Entah kenapa hari ini saya lagi suka mendengarkan lagu-lagu Sheila Majid, Siti Nurhaliza, Vina Panduwinata dan … percaya enggak … Teresa Teng!

Lagu “Yue Liang Dai Biao Wo De Xin” nya Teresa Teng punya kenangan sendiri. Lagu ini pertama didengar (mungkin bukan pertama di dengar, tapi pertama diperhatikan) saat saya di Ujung Pandang (sekarang Makassar). Saat itu kita sekantor lagi “pesiar” di  pulau samalona. Yodi dengan gitar menyanyi lagu ini, dan kami semua tertawa. Dari mereka yang chinese, kenal betul dengan lagu ini. Mereka juga ikut tertawa karena lagu ini sudah beda zaman, lagu masa muda dari orang tua mereka.

Jadi kalau dengar lagu ini jadi ingat kenangan manis di Makassar. Apa kabar Uli, Evie Amda, Syenni Fang, Yenni, Yodi, Nur Patri Jaladara (bet you had ‘menjala dara’), Robby Panglewai dan semua ‘creator’ Monumen Mandala - Makassar. Miss u all guys!

Last but not least, tersisip satu lagu “Over the Rainbow” Isreal Kamamawiwo’ole dari album “Meet Joe BlacK”. It’s so sweet hehehe.