Dunia tanpa internet

Sejak hari Jumat lalu, koneksi internet saya terganggu. Ada gangguan jaringan kabel TV yang menyebabkan koneksi internet dari ISP saya di Bandung tidak mulus. Sore hari ini koneksinya sudah pulih kembali. Tapi apa yang terjadi? Koneksi internasional sekarang tidak terhubung. Browsing ke www.detikinet.com, baru tahu bahwa gempa Taiwan 7.1 skala richter telah merontokkan internet Indonesia karena jaringan fiber optik yang menjadi backbone ikut rusak kemarin.

Ternyata begini kalau dunia tanpa internet. Saya mengalaminya selama beberapa hari. Cukup stress mengingat pekerjaan saya sangat mengandalkan koneksi internet. Bagaimana dengan anda?

Sekarang ditambah pekerjaan menghapus spam di blog, karena antispam yang tidak bisa bekerja di sini (disebabkan oleh hal yang sama, koneksi internasional yang buruk di server). What a gift in the end of year 2006?

Kalau pejabat gaptek

Teman saya memberi link centos.org. Isinya thread antara seorang pejabat di kota Tuttle, Oklahoma yang mengancam akan menuntut (bahkan melaporkan ke FBI) pihak CentOS, operating system berbasis linux opensource. Ketidakmengertian akan teknologi dari sang pejabat, di tambah arogansinya, ujung-ujungnya malah jadi bahan ejekan masyarakat IT. Kasus ini sedikit mengingatkan saya pada beberapa masalah besar yang sempat mencuat di dunia IT Indonesia. Cuma yang di Indonesia, bukan pejabat dan agak ngerti teknologi. Mungkin arogansinya yang sedikit mirip.

Penduduk Amerika belanja online sebesar $25 milyar dalam 1 minggu.

Situs ABCmoney memberitakan hasil survey bahwa penduduk Amerika belanja online sebesar $ 25 milyar hanya dalam 1 minggu di penghujung akhir tahun ini. Hasil studi dari konsultan ini cukup mencengangkan saya, yang baru mengetahui hasil ini. Padahal selisih dengan tahun sebelumnya cuma naik 25 sen per pembeli.

Barang yang paling dicari adalah: pakaian, computer, dan elektronik. Gap merupakan salah satu pakaian yang paling banyak dibeli.

Yang menarik adalah para pembeli mengetahui tempat belanja dari search engine Google (40.5%) dan Yahoo (20.9%). Di sisi lain, Ebay dan Amazon tetap menjadi tempat menarik bagi para pembeli.

Jadi, pastikan situs anda masuk dalam Google dan Yahoo terlebih dahulu, untuk bersaing di pasar online.

Manajemen Neraca Masa

Sebelum puasa, saya berkunjung ke salah seorang teman (initialnya: MSA) yang menjadi Kepala Pabrik. Kami berbincang banyak mengenai manajemen. OK… sebenarnya dialah yang ngobrol banyak tentang manajemen. Karena saya juga kurang tahu banyak teori manajemen.

Ada yang menarik dalam perbincangan ini. Dia berfikiran sederhana dalam manajemen, tapi sukses diterapkan. Karena seorang lulusan Teknik Kimia, dia mengambil prinsip rumus Neraca Masa (kira-kira: sisa = jumlah yang masuk – jumlah yang keluar) dalam semua hal. Pabriknya tidak dalam kategori besar (menurut dia). Jumlah karyawan hanya 200-an orang. Lupakan SWOT, Six Sigma dan lain-lain. Dengan prinsip di atas, dia memilah masalah dan membenahi bagian demi bagian, dan mencoba mangaplikasikan teori “Neraca Masa”-nya. Dia bahkan memberikan beberapa contoh simple dalam menganalisa masalah dan menyelesaikannya. Hasilnya memang bisa dikatakan sangat berhasil. Sisa (atau profit menurut kita) meningkat signifikan.

Dalam waktu yang singkat itu, ada hal yang saya pelajari, dia telah memulai langkah dengan sangat baik. Dia telah menanamkan 3 point penting:

  • Ownership (kepemilikan). Setiap karyawan ditanamkan rasa memiliki perusahaan.
  • Milestones (pencapaian). Selalu memiliki target dari waktu ke waktu. Bahkan untuk 5 tahun ke depan.
  • Measurement (alat Ukur). Mengolah data untuk mengetahui efisiensi, dengan sangat sederhana, hanya dengan worksheet, bukan aplikasi yang canggih.

Sebelum berpisah, dia mengemukakan keinginannya, agar anaknya kelak kuliah di Ekonomi atau Manajemen saja. Enggak usah jadi “Tukang Insinyur” seperti bapaknya. Lho?! Terus yang ngajarin Manajemen ala “Neraca Massa” nanti siapa? Kan enggak ada di kurikulum jurusan ekonomi atau manajemen.

Merdeka ….!

Hari ini 60 tahun Indonesia Merdeka. Tapi karena enggak jalan-jalan keluar, saya tidak bisa menikmati meriahnya HUT RI kali ini. Sebelumnya, waktu tinggal di Cimanggis, pasti selalu tercantum dalam daftar panitia tingkat RW, gak pake konfirmasi dulu. Tahu-tahu udah jadi seksi apa gitu.

Tetangga saya kemarin sore udah sibuk banget mau jalan-jalan ke Monas. Mau nonton “dangdutan” katanya. Sekitar jam 11 malam pulang, mukanya lemes. Gak ada apa-apa di Monas …. Haaaaaaaaaaa.

Saya sendiri nonton TV, dan bolak-balik mindahin channel TV. Semua normal … sinetron dan lain-lain aja … kayak enggak lagi malem Agustusan. Tidak ada lagi slogan heboh yang membangunkan rasa kebangsaan, walaupun beberapa iklan konsisten dengan iklan versi HUT-RI-nya yang wah. Kocaknya lagi ada iklan acara rutin siang hari dari sebuah TV mau siaran langsung di Istana Negara. Kesan ‘sakral’ semangat kemerdekaan langsung ilang deh ngelihat iklan itu.

Kompas 16 Agustus 2005, membahas tingkat kebanggaan menjadi WNI dari sisi usia. Semakin muda orang Indonesia, semakin kecil rasa kebanggaannya menjadi WNI. Apa yang salah?
Di lembar lain dibahas juga perkembangan dan sistem pendidikan Indonesia. Nyambung banget. Kurikulum ‘civics’ (pendidikan kewarga-negaraan), dicampur-campur dengan kepentingan politik. Anak SD malah disuruh menghapal nama menteri. Apa gunanya?
Inilah hasilnya dan kita enggak bisa tutup mata lagi.

Protes polusi? Ikutan Bersepeda Telanjang!

Bersepeda telanjang bersamaHari Sabtu, 11 Juni 2005 kemarin sekitar 100 orang berkeliling kota bersepeda telanjang di London. Aksi serupa dilakukan bersamaan di Madrid, Spanyol

Tapi yang jelas acara ini merupakan bagian dari World Naked Bike Ride, yang bertujuan untuk memprotes polusi yang dikeluarkan dari kendaraan berbahan bakar minyak.

Photo-photo lainnya anda bisa dapatkan di Getty Images

Mau ikutan? Di Indonesia pasti gak bisa. Mungkin anda harus nyebrang ke tetangga Australia atau New Zealand untuk ikut berpartisipasi. Sorry … bukan promo nih.