Reverse DNS (rDNS): apa memang perlu?

Sempat mendapat jawaban email kita di reject? Catatan ini muncul karena email saya ada yang di reject oleh beberapa mail server. Contohnya mail server @telkom.net, juga menggunakan rDNS untuk ‘menyapih’ email spam. Sementara itu, AOL yang memiliki pengguna email yang cukup besar di Amerika sana, juga menerapkan hal yang sama. AOL menerapkan yang lebih ‘restricted’, dengan mengharuskan email harus memiliki ‘fully qualified domain name’ ((FQDN), jika tidak ingin di reject. Yahoo email, walaupun belum sepenuhnya, juga mulai menerapkan ini jika ternyata email server kita tiba tiba mengirimkan email dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Reverse DNS (rDNS) adalah mapping alamat IP ke suatu nama domain. Jadi kebalikan dari DNS (forward/normal DNS) yang mapping nama domain ke alamat IP.

Misal:

  • DNS dari  namadomain.com -> 1.2.3.4
  • rDNS dari 1.2.3.4 tidak selalu akan menunjuk ke “namadomain.com”.

karena data keduanya berasal dari data yang berbeda.

Untuk rDNS digunakan jenis “PTR-record” (Pointer record) untuk menyimpan data DNS. Nama dari PTR-record adalah alamat IP dengan  segments reversed + “.in-addr.arpa”. Jadi untuk reverse DNS untuk IP 1.2.3.4 akan disimpan sebagai PTR-record seperti “4.3.2.1.in-addr.arpa”.

Reverse DNS juga berbeda dari normal DNS yang menunjuk zona (nama domain) ke DNS server kita. Pada DNS, kita menunjuk zona server DNS dengan mendaftarkan nama domain kita di registrar. Dengan reverse DNS,  ISP (Internet connection provider) yang harus menunjuk  (atau “sub-delegate”) zona (“….in-addr.arpa”) ke DNS server kita.
Tanpa sub-delegation dari ISP, zona reverse kita ini tidak akan berjalan.

rDNS biasanya digunakan untuk tracking visitor atau darimana sebuah email berasal, dll.  Bukan hal yang ‘critical’ seperti dalam normal DNS. Pengunjung akan tetap bisa mengakses web anda tanpa rDNS untuk IP server anda.

Akan tetapi rDNS ini menjadi sangat penting untuk email server. Banyak email server di internet dikonfigurasi untuk menolak email dari IP yang tidak memiliki rDNS.

Jadi jika kita mempunya mail server sendiri, rDNS harus ada untuk alamat IP yang mengirim email. Tidak masalah apa nama domain di rDNS, selama data tersebut ada. Jadi jika kita hosting banyak domain di satu email server, cukup setup satu rDNS yang merujuk ke salah satu domain yang kita anggap sebagai domain utama. Server email yang mengecek rDNS tidak akan mengenali semua domain  yang ada di satu IP, dan juga tidak mungkin untuk mendaftarkan semua nama domain di satu IP  rDNS.

(Sumber: terjemahan bebas dari http://www.simpledns.com/kb.aspx?kbid=1052)

Leave a Reply