Kecemplung Framework

Judul blog yang ini kelihatannya mengada-ngada. Tanpa tendensius ngejar SEO hehehe. Tapi sebenarnya hal ini memang terjadi di antara kebanyakan programmer. Tulisan ini sebenarnya bercerita pengalaman saya mulai menggunakan WordPress.

Application Framework

Application Framework menurut definisi Wiki adalah Kerangka Kerja untuk menerapkan struktur standar pada sebuah aplikasi. Dalam dunia PHP programming, banyak bertebaran hasil kreasi framework, beberapa diantaranya yang populer adalah: Zend, CodeIgniter, Yii, CakePHP, Laravel dan lain-lain. PHP Framework yang disertai dokumentasi yang baik, biasanya yang paling banyak di adopsi oleh para programmer PHP.

Dengan bervariasinya framework ini, tak jarang para web developer beradu argumentasi mana framework terbaik. Argumennya seringkali subyektif, karena si developer tersebut memang sangat menguasai salah satu framework tersebut, dan tentunya merasa sangat nyaman dengan pola yang dibentuk oleh si framework tadi. Inilah yang saya sebut ‘Kecemplung Framework‘.

Framework WordPress

Loh? Bukannya WordPress itu platform blog?

Awal pertama saya kenal WordPress sebenarnya iseng iseng aja, karena pengen bikin situs blog pribadi yang ini. Sebenarnya waktu itu bernafsu bikin sendiri CMS pake ColdFusion, karena pada saat itu masih bekerja dengan ColdFusion. Akhirnya memang jadi juga sih …, tapi kok rasanya gak seimbang dengan effortnya. Wong bikin media buat ngeblog pribadi, kok serepot itu?

Mulailah mencari alternatif. Gak banyak opensource platform yang cocok dengan kebutuhan saya saat itu. Yang gampang installnya juga populer saat itu ada Mambo (yang kemudian jadi Joomla), MovableType, dan WordPress. Sebenarnya lebih banyak lagi, tapi ketiga ini yang sempat dicoba saat itu. Mambo, backendnya ruwet, gak pas untuk ngeblog saya, jadi langsung disisihkan. MovableType saat itu lebih advanced, tapi kok ngenalin si themingnya repot. Terakhir lihat WordPress, dokumentasi pembuatan themenya lengkap. Dan akhirnya diputuskan menggunakan WordPress, sambil belajar CSS dan ngotak atik themenya saat.

Setelah membuat theme sendiri saat itu, saya sempat mempublish beberapa free theme (yang sekarang kadaluarsa hehehe). Sempat memenangi satu lomba, tapi hadiahnya gak nyampe sampe sekarang ;-((. Sayang marketplace seperti Themeforest telat lahir, jadi saya gak pernah kepikiran untuk membuat premium theme, dan masih sibuk berkutat dengan project project web.

Belakangan, setelah mengerjakan beberapa project yang tidak kompleks, akhirnya mulai kepikiran ngapain bikin CMS sendiri. Mending pelajari WP sampai jeroannya, supaya bisa dimodifikasi sesuai dengan keinginan. Dan simsalabim “ziiing …!”, ternyata gak bisa sekejap mempelajarinya! Butuh learning curve baru, sama halnya seperti mempelajari framework PHP.

Setelah mengenali banyak ‘daleman’ si WP inilah, akhirnya saya merasa jadi ‘Kecemplung Framework’-nya WP. WP sebenarnya bukan framework, yang biasanya terdiri dari MVC (Model-View-Controller). Tapi karena sekarang jadi acuan kerangka kerja saya, saya kira sah aja kalau saya sebut framework.

Arsitektur WordPress sebenarnya sangat elegan (subyektif! ngebela-belain WP hehehe), dengan database yang simpel, dan konstruksi templating yang cukup nyaman. Custom Post Type yang muncul menjelang versi 3 dahulu, walaupun limited, tapi saya kira sudah cukup mengatasi kebutuhan data-data non standar. Cukup perfect untuk membuat website, tanpa harus membuat CMS platform sendiri. Bonusnya lagi, client gak diajarin cara makenya, eh udah bisa isi/edit sendiri situsnya.

Sekarang ini, WP theme tiba tiba jadi sangat komersial. Kriesi bisa membukukan penjualan $ 1juta di themeforest dengan menjual premium theme sampai akhir tahun 2012.  Jumlah yang gak main main. Nyari proyek web sendiri, bisa berapa lama dapat senilai itu. ;-)

Jadi pelajaran kali ini (eh dari tadi tuh belajar ya?), kalau memang serius dengan salah satu langkah, sebaiknya kita menekuninya dengan baik. :-)

Leave a Reply