February 23rd, 2006 by admin
Banyak blog komentar situs presiden SBY banyak menyinggung tentang HTTrack. Jika kita telusuri, ternyata ini jejak dari sebuah software gratisan untuk men-copy sebuah website. Anda bisa mengambilnya di http://www.httrack.com. Software ini lazimnya digunakan untuk mengcopy sebuah website agar bisa dilihat secara offline kemudian. Mengapa software ini digunakan untuk situs PresidenSBY.info?
Read the rest of this entry »
February 13th, 2006 by admin
Teman saya, Umining Dwi Kusminarti atau kerap disapa Mbak Atiek, masuk di profil Wanita, di media Republika edisi Minggu, 12 Februari 2006. Anda bisa membaca detailnya disini. Tentu saja mengangkat produk Arrosa, mainan boneka bernuansa islam, bisnis yang digeluti bersama kawan-kawan yang lain. Selamat!
February 5th, 2006 by admin
Sempat di caci-maki dengan bahasa yang anda tidak tahu? Mungkin anda bisa cek di sini “Lots of Jokes - Multilingual Swearing” untuk mengetahui artinya. Tidak banyak namun menarik juga. Mungkin anda berminat untuk mencaci orang dalam bahasa lain? Tolong jangan bilang orang lain, anda tahu dari saya!
February 2nd, 2006 by admin
Hari ini Mas Indroo chat dengan saya. Dia berhasil mendaftarkan domain http://i.web.id. Sungguh luar biasa, satu digit saja. Saya jadi penasaran sama peraturan pendaftaran domain yang baru. Setelah melihat, rasanya ini masih peraturan lama. Read the rest of this entry »
January 1st, 2006 by admin
Selamat tahun baru 2006.
Saatnya untuk mereview langkah di tahun 2005 dan menyusun rencana kerja di tahun 2006.
Sukses buat anda semua! Dan sukses untuk negara kita tercinta, Indonesia!
December 30th, 2005 by admin
Situs ABCmoney memberitakan hasil survey bahwa penduduk Amerika belanja online sebesar $ 25 milyar hanya dalam 1 minggu di penghujung akhir tahun ini. Hasil studi dari konsultan ini cukup mencengangkan saya, yang baru mengetahui hasil ini. Padahal selisih dengan tahun sebelumnya cuma naik 25 sen per pembeli.
Barang yang paling dicari adalah: pakaian, computer, dan elektronik. Gap merupakan salah satu pakaian yang paling banyak dibeli.
Yang menarik adalah para pembeli mengetahui tempat belanja dari search engine Google (40.5%) dan Yahoo (20.9%). Di sisi lain, Ebay dan Amazon tetap menjadi tempat menarik bagi para pembeli.
Jadi, pastikan situs anda masuk dalam Google dan Yahoo terlebih dahulu, untuk bersaing di pasar online.
October 30th, 2005 by admin
Sebelum puasa, saya berkunjung ke salah seorang teman (initialnya: MSA) yang menjadi Kepala Pabrik. Kami berbincang banyak mengenai manajemen. OK… sebenarnya dialah yang ngobrol banyak tentang manajemen. Karena saya juga kurang tahu banyak teori manajemen.
Ada yang menarik dalam perbincangan ini. Dia berfikiran sederhana dalam manajemen, tapi sukses diterapkan. Karena seorang lulusan Teknik Kimia, dia mengambil prinsip rumus Neraca Masa (kira-kira: sisa = jumlah yang masuk - jumlah yang keluar) dalam semua hal. Pabriknya tidak dalam kategori besar (menurut dia). Jumlah karyawan hanya 200-an orang. Lupakan SWOT, Six Sigma dan lain-lain. Dengan prinsip di atas, dia memilah masalah dan membenahi bagian demi bagian, dan mencoba mangaplikasikan teori “Neraca Masa”-nya. Dia bahkan memberikan beberapa contoh simple dalam menganalisa masalah dan menyelesaikannya. Hasilnya memang bisa dikatakan sangat berhasil. Sisa (atau profit menurut kita) meningkat signifikan.
Dalam waktu yang singkat itu, ada hal yang saya pelajari, dia telah memulai langkah dengan sangat baik. Dia telah menanamkan 3 point penting:
- Ownership (kepemilikan). Setiap karyawan ditanamkan rasa memiliki perusahaan.
- Milestones (pencapaian). Selalu memiliki target dari waktu ke waktu. Bahkan untuk 5 tahun ke depan.
- Measurement (alat Ukur). Mengolah data untuk mengetahui efisiensi, dengan sangat sederhana, hanya dengan worksheet, bukan aplikasi yang canggih.
Sebelum berpisah, dia mengemukakan keinginannya, agar anaknya kelak kuliah di Ekonomi atau Manajemen saja. Enggak usah jadi “Tukang Insinyur” seperti bapaknya. Lho?! Terus yang ngajarin Manajemen ala “Neraca Massa” nanti siapa? Kan enggak ada di kurikulum jurusan ekonomi atau manajemen.
October 29th, 2005 by admin
Ada hal klasik pada saat karier seseorang dimulai.
1. Seseorang tidak akan mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki pengalaman
2. Seseorang juga tidak akan mendapatkan pengalaman tanpa pekerjaan.
Fakta: tidak ada sekolah yang bisa menyediakan tenaga yang benar-benar siap pakai. Hal ini, pasti terjadi pada seorang programmer pertama kali.
Seorang programmer, pada awalnya pasti membayangkan bahwa pekerjaan sehari-harinya adalah 75% coding. Kenyataannya, justru kebanyakan waktunya dihabiskan untuk meeting dengan bagian lain. Dunia perusahaan selalu berhubungan erat dengan: birokrasi, politik, marketing, manajemen yang “clueless”, dan semua hal yang tidak berhubungan dengan keahlian membuat kode pemrograman.
Programmer selalu beranggapan bahwa “kesempurnaan teknis” adalah satu-satunya yang bernilai dan diperhitungkan. Walaupun mereka dibayar dengan cukup baik oleh perusahaan, tetapi — tolong diperhatikan — perusahaan tidak pernah melihat bagaimana hebatnya “kesempurnaan teknis” programmer tersebut.
Prinsip dalam dunia bisnis: It’s all about the money. Software hanyalah sebuah produk, tidak lebih. Bukan sesuatu yang berseni tinggi. Bukan sesuatu yang hebat. Hanya sesuatu yang akan diberikan pada customer dan akan menjadi bagian dari mencari keuntungan. Ini yang membuat programmer merasa terjun ke dunia terasing atau ke dalam air keruh.
Jadi mulai saat ini, programmer harus berpikiran sama dengan para bisnisman: It’s all about the money. Pasti pandangan terhadap karier anda akan berubah. Kapitalis? Apa lagi?
August 18th, 2005 by admin
Catatan harian Priyadi dengan judul “Curhat Seorang Korban Money Game” dapat komentar lebih dari 100. Lho… kenapa kok ribut? Lalu apa sebenarnya Money Game, MLM, Elite Marketingnya Anne Ahira, dan sejenisnya. Semua jenis bisnis ini dinamakan bisnis piramida atau “schema Ponzi”. Sekarang siapa lagi Ponzi?
Read the rest of this entry »
August 17th, 2005 by admin
Hari ini 60 tahun Indonesia Merdeka. Tapi karena enggak jalan-jalan keluar, saya tidak bisa menikmati meriahnya HUT RI kali ini. Sebelumnya, waktu tinggal di Cimanggis, pasti selalu tercantum dalam daftar panitia tingkat RW, gak pake konfirmasi dulu. Tahu-tahu udah jadi seksi apa gitu.
Tetangga saya kemarin sore udah sibuk banget mau jalan-jalan ke Monas. Mau nonton “dangdutan” katanya. Sekitar jam 11 malam pulang, mukanya lemes. Gak ada apa-apa di Monas …. Haaaaaaaaaaa.
Saya sendiri nonton TV, dan bolak-balik mindahin channel TV. Semua normal … sinetron dan lain-lain aja … kayak enggak lagi malem Agustusan. Tidak ada lagi slogan heboh yang membangunkan rasa kebangsaan, walaupun beberapa iklan konsisten dengan iklan versi HUT-RI-nya yang wah. Kocaknya lagi ada iklan acara rutin siang hari dari sebuah TV mau siaran langsung di Istana Negara. Kesan ’sakral’ semangat kemerdekaan langsung ilang deh ngelihat iklan itu.
Kompas 16 Agustus 2005, membahas tingkat kebanggaan menjadi WNI dari sisi usia. Semakin muda orang Indonesia, semakin kecil rasa kebanggaannya menjadi WNI. Apa yang salah?
Di lembar lain dibahas juga perkembangan dan sistem pendidikan Indonesia. Nyambung banget. Kurikulum ‘civics’ (pendidikan kewarga-negaraan), dicampur-campur dengan kepentingan politik. Anak SD malah disuruh menghapal nama menteri. Apa gunanya?
Inilah hasilnya dan kita enggak bisa tutup mata lagi.