Ada request dari Montan menganalisa pembuatan toko online peralatan photography serta peluang marketnya. Kebetulan saya cukup mengamati toko-toko online eks Indonesia. Read the rest of this entry »

Credit Card sudah lama jadi fraud cara pembayaran di Internet. Orang berfikir, cara transfer merupakan cara teraman untuk melindungi si penjual barang. Ternyata, tidak juga aman dari kelihaian para maling.

Salah satu usaha Parcell sempat mengalami hal ini baru-baru ini. Ceritanya ada sesorang memesan parcell (berupa HP) senilai 8 juta. Pembayaran di transfer melalui bank. Dan kebetulan antar bank jadinya, yang membutuhkan waktu sampai benar-benar mengetahui uangnya sudah masuk ke rekening yang dituju. Tapi bukti transfer sudah di fax dan senilai 8 juta.

Pagi harinya (jam 6), sang pemesan datang sambil bilang harus buru-buru mengambil barangnya karena mau terbang, jadi enggak sempat nunggu barangnya di antar. Dia tunjukkan bukti transfer aslinya. Karena kantor belum buka, jadi Satpam yang menyerahkan barang itu karena melihat bukti transfer. Siangnya, sang pemilik usaha kaget, karena ternyata uang yang masuk hanya sebesar Rp. 50 ribu (minimum transfer). Itu artinya bukti transfer telah dimanipulasi sedemikian rupa agar menjadi Rp. 8 juta.

Jadi hati-hati, jika toko online anda menerima pembayaran lewat transfer. Selalu pastikan bahwa uang tersebut sudah diterima di bank, sebelum anda menyerahkan barang tersebut.

Hari ini satu komputer di kantor gak mau nyala setelah ada ‘flicker’ (ngedip begitu deh) aliran listrik. Kemudian saya merenung, berapa (dalam mata uang) kerugian konsumen yang diakibatkan oleh kedipan si Listrik ini. Soalnya gak cuma komputer, yang hampir sering terjadi adalah lampu yang putus (lampu pijar). Entah alat-alat lainnya.

Sudah saatnya lembaga konsumen kembali memperjuangkan supaya PLN memperbaiki kualitas service mereka. Gak cuma gembar-gembor suruh hemat energi.

FYI, operator di bagian pengendalian (sorry, enggak tahu apa namanya), dapat dikenakan sangsi maksimal perbuatan ‘makar’. Serem kan? Tapi kok masih sering mati nih? Kurang berat sangsinya?

Akhirnya JPC Kemang menjual kedua lensa untuk Canon ini. Ini lanjutan dari blog sebelumnya “Lenses for Canon DSLR - A Wish List“.

  Sigma 18-200m Tamron AF 18-200m
  Sigma 18-200mm Tamron AF 18-200mm
Harga Rp. 3.207.100 Rp. 4.300.000
Max Apperture f/3.5-6.3 f/3.5-6.3
Min Apperture f/22 f/22
Lens Contruction 15 elemen/13 group 15 elemen/13 group
Min Focus 45 cm 45 cm
Max Magnification 1:4.4 1:3.7
(at f=200mm MFD 0.45m)
Dia. x Panjang 70mm x 78.1mm 73.8mm x 83.7mm
Berat 405g 398g
Diaphragm Blades 7 blades 7 blades
Lens Hood Petal Hood Flower-shaped

Masih ada informasi lain, cuma keduanya mirip aja dari spesifikasi.

Jadi milih yang mana? Sekarang ini baru satu clue, harga Sigma jauh lebih murah dibanding Tamron. Wah masih harus cari referensi lagi nih.

Akhirnya dapat perbandingan head-to-head dari kualitas hasil foto dari sisi sharpness dan chromatic abberation. Ini dia linknya DCResource.

Jadi kesimpulan ambil aja yang Sigma. Lebih murah dan lebih bagus.:)

Trouble email server

May 11th, 2005 by Hadi

Sore ini email server saya dihujani email dari IP: 202.155.6x.120 ke salah satu email di server kita. IP ini menunjukkan bahwa biangnya adalah salah satu pengguna Indosat. Sialnya, email ini terlalu bertubi-tubi membuat anti virusnya jadi kerja berat, yang ujung-ujungnya bikin server kelihatan agak ngeden. Setelah lama ngotak-ngatik anti spam, trus nyerah. Ujung-ujungnya ya di block saja IP ini …  Beres!

Sampai blog ini ditulis, IP ini masih mencecar server email. Sial!

Setelah baca review majalah "Digital Camera World" edisi May 2005, saya jadi kurang bernafsu untuk menggantikan 300D ke 350D. Menurut si penulis ada beberapa hal mengapa upgrade ini kurang bernilai:

  • Ada perbaikan kecepatan dibanding EOS300D. Ini point bagusnya, ini karena menggunakan prosessor Digic II.
  • AF metering system yang ternyata masih belum sehebat EOS 20D, terutama dalam mode tertentu.
  • 8 MB ternyata bukan jaminan kualitas gambar menjadi lebih hebat dari pendahulunya EOS 300D. Walaupun tentu saja ada kelebihannya.
  • Terlalu mungil. Ini pasti tidak akan nyaman.
  • Selisih harga yang terlalu jauh dengan EOS 300D. Kalaupun begitu, mendingan sekalian aja langsung ke EOS 20D.

Tiba-tiba saya tergelitik ingin mengetahui seberapa banyak web bisa membantu bisnis retail, setelah salah seorang teman menawarkan produk Sari Buah Merah. Sari Buah Merah jadi trend obat tradisional, setelah berakhirnya masa trend Susu Kuda Liar. Konon katanya, produk ini laku keras dan bisa mengobati berbagai penyakit. Kebetulan harga yang ditawarkan rekan ini cukup kompetitif.

Untuk merealisasikan ini, maka saya sudah mulai dan akan mengerjakan:

  • Website sederhana yaitu http://www.buahmerah.biz.tm/.
  • Cek kesiapan dari sang pemilik bisnis untuk menerima order via web. Setiap agen retailer dimohon untuk menanyakan ke pelanggan baru, “Tahu darimana tentang kami?”
  • Submit ke search engine
  • Mencoba beriklan di googgle Adwords. Sekalian ngecek efektifnya beriklan disini.
  • Pengen juga mencoba untuk beriklan di situs-situs iklan. Cuma mungkin ini akan menjadi prioritas kedua.

Tujuannya gak muluk-muluk sebenarnya :

  • Meraih pangsa pasar dari Web, sekecil apapun itu.
  • Membuat pemilik bisnis tersenyum senang (Ini bagian sulitnya kali)

As always response to our lady web designer, Montan. Web Designer gak punya masa depan dan Web Programmer lebih parah lagi.

Read the rest of this entry »